BANDUNG - Pengprov Porlasi Jawa Barat segera menyiapkan seluruh tahapan yang dibutuhkan jelang pengukuhan Tim Pelatda Jabar proyeski PON XXI/2024 pada Januari 2024 ini.
Ketua Umum Pengprov Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi) Jabar Arief Prayitno mengatakan beberapa tahapan yang akan ditempuh sebelum atletnya menjalani Pelatda diantaranya masalah atlet.
Menurutnya, atlet yang lolos ke PON adalah pemenang 1 sampai 5 saat Babak Kualifikai (BK). Untuk pemenang 1 sampai 5, katanya sebanyak 15 atlet bahkan melebihi dari gelaran PON XX di Papua tahun 2021 dimana secara kuantitas PON di Papua berjumlah 11 atlet yang lolos BK.
“Dari 15 atlet yang lolos BK itu Jabar memperoleh 1 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu, selebihnya ada diurutan 4 dan 5. Saya tidak tahu persis kebijakan KONI Jabar apakah nantinya mengambil no urut 1 sampai 3 atau 1 sampai 5,” ujar pria pensiunan TNI Bintang Satu itu menjelaskan.
Ia mengatakan, jika yang akan diambil no urut 1 sampai 3 maka yang berangkat ke PON berjumlah 6 atlet. Sedangkan, target dari KONI Jabar itu sendiri khusus untuk Porlasi adalah 2 medali emas.
Adapun dari 6 atlet jika diambil no urut 1 sampai 3 yang pertama adalah Kahya di nomor IQ foil, kemudian Jatmiko di nomor perseorangan putra dan Silvi. Dari target 2 medali emas, salah satunya lagi di nomor hobie 16 dan double handed atas nama Wibowo dan seorang atlet putri. Dari 4 nomor yang diikuti, Porlasi Jabar menargetkan 2 medali emas.
“Pada prinsipnya dicabor layar tidak ada target yang muluk-muluk tapi kemudian hasilnya diluar harapan. Bicara soal target emas, kita realistis saja. Saya memantau setiap hari perkembangan cabor layar. Insya Allah setelah melihat perkembangan, target 2 emas bisa diwujudkan di PON tahun depan. Harapannya sih mudah-mudahan bisa lebih dari 2 emas,” kata Arief menambahkan.
Idealnya ujuar dia, Pelatda ukurannya efektif dan efisien. Ia mencontohkan, dalam seminggu tim latihan di Pelatda bisa dilakukan 5 atau 6 kali daripada seminggu sekali misalnya. Pelatda cabor layar akan dilaksanakan di National Sailing Center (NSC) , Ancol, Jakarta Utara.
“Pengambilan venue di NSC Ancol alasannya yang pertama adalah tempat pertandingan di PON yaitu di Ule Ule Banda Aceh mirip dengan di Ancol . Yang kedua sarana dan prasarana di Ancol lebih lengkap dan jaraknya juga tidak terlalu jauh ,” katanya mengungkapkan.
Soal training centre (TC), Arief sudah mengusulkan kalau tidak Juni, pastinya Juli dengan mengambil tempat di Thailand atau Malaysia. Kedua negara ini dipilih karena pada bulan tesebut sedang menggelar event layar Internasional dan tim layar Indonesia bisa ikut serta di event itu. Kemudian alasan lainnya adalah kedua negara ini di wilayah Asia Tenggara prestasinya cukup bagus .
Terkait peralatan, Arief mengatakan, telah mengajukan kepada KONI Jabar yaitu peralatan untuk nomor hobby kite, IQ foil dan laser, sebab – menurut Arief, salah satu faktor non teknis di cabor layar itu adalah masalah peralatan, selain tentunya faktor alam.
“Soal fakta integritas, Porlasi Jabar sudah melakukannya di gelaran POPROV beberapa waktu lalu, isinya antara lain jalinan kerjasama dengan KONI-KONI daerah untuk menjaga atlet-atletnya. Fakta intergritas selanjutnya adalah menjaga atletnya untuk tidak keluar dari Jabar,” ujarnya menuturkan. *** (Rief)