PERSIAPKAN MASA DEPAN, AQILA AULIA MULAI TERJUN KE DUNIA BISNIS

BANDUNG - Masalah paling rumit dan berat bagi sorang atlet adalah mempersiapkan masa depannya setelah pensiun sebagai atlet. Sudah banyak mantan atlet yang kehidupannya sangat memprihatinkan karena tidak bisa bekerja dan berusaha setelah pensiun sebagai atlet atau saat masa jayanya sebagai atlet sudah berakhir.

Menjalani sebuah bisnis memerlukan sikap percaya diri, karena tidak semua orang memiliki kemampuan dalam kegiatan jual beli atau berdagang. Namun hal ini tidak berlaku bagi atlet Taekwondo Jabar dan Nasional Aqila Aulia Ramadhani.

Hal ini sudah tertanam dalam diri Aqila sudah cukup lama untuk membuka usaha dengan modal dari bonus yang diterimanya. “Saya selalu berpikir kalau sudah pensiun jadi atlet mau jadi apa? Dari sini saya berpikir untuk buksa usaha dan ternyata mendapat dukungan penuh dari orang tua,” ungkap Aqila.

Aqila memulai usahanya pada 2020, mengembangkan usahanya dengan tekun untuk menjalani usaha perlengkapan olahraga beladiri Taekwondo dengan merk Star.

Pengalaman menjadi atlet saat membutuhkan peralatan taekwondo dengan harga mahal terkadang tidak cocok saat digunakan baik bertanding maupun latihan. Dari baju atau disebut dobok, body protector, perlindung kaki tangan, sabuk, dan target, yang memang harganya mahal. Maka berdasarkan pengalaman dan latar belakang tersebut Aqila memberanikan diri untuk memulai usaha tersebut.

“Karena bidang yang saya pahami dan saya geluti adalah olahraga taekwondo dan saya paham betul peraturan dan perlengkapan untuk pertandingan taekwondo, maka saya putuskan untuk membuat perlangkapan taekwondo dengan nama Star. Pada tahun 2020 bulan Agustus memulainya,” ungkap Aqila peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

Di awal produksi Aqila selalu berkonsultasi dengan pelatih taekwondo mengenai perlengkapannya untuk sebagai perbaikan. Lambat laun produksinya mulai dikenal, salah satu promosi yang dilakukannya dengan cara diperkenalkan kepada teman-temannya, serta dipergunakan sendiri, mengingat Aqila merupakan atlet aktif dan masuk sebagai atlet Jabar.

“Untuk memperkenalkan atau promosi, karena saya sendiri atlet jadi banyak kenalan dan relasi pelatih dan teman-teman taekwondo lain, jadi suka menawarkan dan juga mempromosikan lewat sosial media dan juga setiap ada event-event atau ujian kenaikan tingkat taekwondo selalu buka stand atau ikut menjadi sponsor di event tersebut,” papar gadis kelahiran Bekasi, 5 November 2002.

Walaupun baru berjalan 3 tahun usahanya ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dan bisa diterima dan ini menjadi salah satu tujuannya membuat perlengkapan taekwondo agar bisa diterima para taekwondoin dengan harga terjangkau.

“Saya ingin para taekwondoin di luar sana bisa memakai produk lokal perlengkapan taekwondo dengan kualitas bagus seperti brand luar negri tetapi dengan harga yg jauh lebih terjangkau dan murah,” tegasnya.

Aqila sendiri saat ini menjadi tim taekwondo Jabar yang dipersiapkan menghadapi PON XXI Aceh Sumut. Debutnya membela Jabar di ajang PON XX Papua dan bisa meraih hasil yang menggebirakan dengan meraih medali emas.

Selain itu Aqila juga memiliki prestasi yang sangat luar biasa dengan bisa berprestasi dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jabar, Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas), Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas).

Selain tingkat nasional, Aqila juga bisa meraih prestasi di tingkat internasional dengan bisa meraih gelar juara 1 Asian Taekwondo Championship, dua kali juara di Thailand Open, serta juara di Korea Open.

Namun siapa yang tidak menyangka Aqila untuk menjadi atlet taekwondo harus melalui perjuangan salah satunya tidak mendapat ijin dari bapak Halimudin dan Ibu Lessi Bunarsi. Anak kedua dari kedua bersaudara ini harus menunggu selama satu tahun untuk diijinkan mengikuti latihan taekwondo.

“Awal ikut taekwondo keinginan dari diri sendiri karena dari dulu emang suka bermain permainan anak laki laki dan suka berantem juga dari kecil. Dulu setiap mau pulang kerumah saat SD selalu ngelewatin orang-orang latihan taekwondo dan selalu pengen ikutan. Tapi selama setahun ditahan sama orang tua untuk ikut taekwondo karena takut. Karena anak perempuan tapi setelah mohon-mohon dan terus ngebujuk orang tua akhirnya di ijinin juga,” pungkasnya. *** (Ris)


Navigasi