ENSIKLOPON - PON VII/1969 DI SURABAYA AWAL PASCA MELETUSNYA G 30 S-PKI (6)

Pasca meletusnya G 30 S-PKI, pelaksanaan banyak mengalami perubahan. PON VII/1969 pun masuk ke alam orde baru. Jika di masa orde lama pembukaan selalu dilakukan Presiden RI, Soekarno, maka PON VII/ 1969 di zaman order baru untuk pertama kalinya pembukaan dilakukan, Soeharto.

Pelaksanaan PON VII/1969di Surabaya merupakan hasil kerja yang maksimal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan segala kemampuannya untuk tetap menghidupkan semangat keolahragaan.

Apa yang telah diusahakan Pj Gubernur Moh Noer dan Pelaksana PON, Kolonel Acub Zaenal, dapat menunjukan bahwa masyarakat Jawa Timur mampu membina potensi yang besar yang merupakan harapan seluruh bangsa Indonesia pada masa itu.

6000 atlet dan ofisial pun tidak mengeluhkan ketika ditempatkan di beberapa lokasi penampungan seperti Asrama KKO di Gubeng, Asrama Bhaskara dan di beberapa tempat lainnya.

Begitu juga setiap pertandingan di masing – masin cabang olahraga tidak diselenggarakan di satu tempat.  Namun, berpencar di beberapa venue seperti Gelora 10 November cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi, Atletik dan Sepakbola.

Renang, Polo Air, Loncat Indah di kolam renang Tegalsari dan olahraga air lainnya di Komplek Angkatan Laut Perak. Selain mempertandingkan cabang olahraga, PON VII/1969 juga disemarakan oleh lomba dan atraksi yang menarik yang diselingi oleh berbagai acara hiburan kesenian.

Lomba nyanyi yang membawakan lagu khusus  PON VI/1969 pada waktu dimenangkan, Emilia Contesa penyanyi asal Banyuwangi sekaligus mewakili Jawa Timur.  Sementara hiburan yang disumbangan masyarakat Jawa Timur seperti ludruk, ketoprak, bioskop – bioskop digelar selama PON VII/1969 berlangsung.

Alhasil, dengan dipertunjukannya berbagai kegiatan selama PON VII/1969 berlangsung di Surabaya dinilai pembinaan keolahragaa dan kesenian sangat efektif pada waktu itu.

Pada pembukaan yang dilakukan oleh Presiden Soeharto saat itu disuguhi atraksi Reog Ponorogo, Pencak Silat maka pada acara penutupan selain dimeriahkan oleh pertunjukan hiburan kesenian dan kebudayaan setempat juga digelar pertandingan final cabang olahraga sepakbola antara DKI Jakarta melawan Jawa Timur. Sayang pertandingan ini harus berakhir dengan sebuah insiden. *** (rief/berbagai sumber)


Navigasi