Penulis : Kiki Nurjaman
Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sahid Jakarta
ISU gender tak pernah padam. Termasuk dalam dunia olahraga prestasi di Provinsi Jawa Barat, kini tengah bersiap menuju Hattrick Juara di Pekan Olahraga Nasional Indonesia (PON) XXI 2024 Sumatra Utara-Aceh, dengan diperkuat 707 atlet putra dan 552 putri. Komposisi berdasarkan gender ini selaras dengan data populasi tahun 2020, dari rasio jenis kelamin penduduk sebesar 103 jiwa berkelamin laki-laki, per 100 jiwa berkelamin perempuan.
Dari prespektif jumlah, perempuan tidak jauh berbeda dengan laki-laki. Hal ini juga membuka peluang bahwa perempuan-perempuan di Jawa Barat memiliki equality yang sama dengan laki-laki untuk menorehkan kualitas diri melalui olahraga prestasi. Dulu aksi heroik dalam dunia olahraga mungkin hanya didominasi para atlet laki-laki. Namun di Indonesia sudah dipertontonkan catatan sejarah manis yang ditulis kaum hawa. Sebut saja Susi Susanti, yang berhasil mengibarkan bendera merah putih di ajang Olimpiade Barcelona di tahun 1992, melalui cabang olahraga bulutangkis.
Mundur lagi ke belakang ditahun 1988 Olimpiade Seoul Korea Selatan. Tiga Srikandi atlet Panahan Indonesia, berhasil memetik medali perak pertama dipesta multievent olahraga tingkat dunia itu. Bahkan pencapaian Susi Susanti dan Tiga Srikandi ini dirangkai dalam suatu produk komuditas perfilmnan nasional sebagai catatan manis Indonesia dalam dunia olahraga.
Perempuan-perempuan berprestasi ini seolah mengikis stigma bahwa perempuan memiliki batasan untuk berprestasi. Mereka yang selama ini hanya menjadi objek “korban” dari kaum laki-laki, dengan diberikan equality yang sama maka projek emansipasi yang dicanangkan Kartini bisa tercapai.
Mirip dengan apa yang disampaikan Nawal Al El Sa’adawi, bahwa perempuan harus mau berubah dan berusaha untuk mengangkat harkat dan martabatnya dengan mengusung gagasan perubahan dan modernisasi, yang dimulai dari pribadinya masing-masing. Mereka juga ditantang harus bisa terbebaskan dan berani menyingkap tabir pikiran mereka, yaitu kesadaran palsu, kesan-kesan minor, dan sikap lemah yang selama ini melekat pada kaum perempuan, yang pada akhirnya muncul sebuaah kesadaran baru pada diri mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara dirinya dan kaum lelaki. Dan pada akhirnya akan menjadi suatu kekuatan yang memiliki otoritas dalam mengambil keputusan yang besar.
Untuk itu, patut dinantikan diperhelatan PON XXI nanti, apakah perempuan Jawa Barat mampu memdominasi perolehan medali. Yang jelas, perbedaanya adalah kesadaran diri yang berbentuk motivasi untuk memberikan yang tebaik bagi provinsi yang berjuluk Tanah Pasundan ini. (*)