RATU TISHA, "DI BANDING ASPROV LAIN, ASPROV PSSI JABAR LEBIH MAJU,"

BANDUNG, – Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha Destria menilai Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat lebih maju dibanding Asprov lain yang ada di Indonesia. Hal itu diungkapkannya saa membuka Kongres Asprov PSSI Jabar di Aula Asprov Jalan Lodaya Kota Bandung, Sabtu (20/7/2024).

“Saya menilai Asprov PSSI Jabar lebih maju dibanding Asprov-asprov lainnya ditanah air. Banyak pelatih dan wasit-wasit yang bagus dari Asprov Jabar,” ujar Tisha.

Menurutnya ada dua hal yang paling penting yang harus dilakukan Asprov PSSI Jabar. Pertama, membongkar sistem kepelatihan yang ada saat ini. Artinya, kalau berlari dengan kecepatan yang sekarang, mungkin butuh waktu 13 tahun untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara Jepang.

“Kita harus membuat terobosan baru untuk memperbanyak jumlah kursus-kursus dan instruktur yang stay tinggalnya di domisili tersebut sehingga kursus pun bisa lebih murah dan lebih terjangkau. Dengan demikian jumlahnya bisa lebih banyak. Peningkatannya tidak hanya dua atau tiga kali tapi melompat,” papar Tisha.

Dengan demikian – lanjut Tisha, dalam satu tahun itu kursus kepelatihan atau jumlah pelatih yang dihasilkan harus membidik target lebih dari 1000. Dengan jumlah sebanyak itu lompatan angkanya bisa terlihat.

Yang kedua adalah system pendataan pemain. Asprov PSSI Jabar adalah yang terdepan dalam hal buyer registration dan satu-satunya Asprov yang menerapkan adanya sistem registrasi pemain.

“Sistem penerapan registrasi pemain harus dikembangkan lebih lanjut karena ini merupakan terobosan yang sangat bagus yang tidak ada di Asprov lain karena Asprov yang lain rata-rata tidak memiliki area sistem yang benar-benar tertata,” ungkap Tisha.

Asprov PSSI Jabar harus menjadi contoh terdepan sehingga Asprov yang lan bisa mengcopy.

“Dua hal tersebut yang menjadi catatan penting. Secara teknis ini menjadi pekerjaan rumah bagi Asprov PSSI Jabar. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada 65 anggota yang hadir untuk berkongres. Kami juga butuh dukungan dari seluruh stake holder sepakbola di Indonesia,” ujar Tisha.

Disinggung mengenai gelaran PON 2024 September mendatang, Tisha mengatakan peran serta PSSI hanya bersifat teknis karena pekerjaan utamanya dipegang KONI.

“Posisi PSSI adalah menyiapkan secara teknis. Misalnya perangkatnya, technical directornya, regulasinya. Kalau menyangkut hal ini kami ready lah karena ini area spesialisasi kita,” ujar Tisha.

Ditempat yang sama Ketua Asprov PSSI Jabar Tommy Apriantono mengatakan, dalam kongres, Asprov PSSI Jabar senantiasa mengedepankan faktor integritas. Pertama, secara pribadi dan seluruh exco tidak pernah ikut campur menyangkut hasil pertandingan terkait kepemimpinan wasit.

Kedua, Kejurda itu memang adhoc, supaya SSB juaranya langsung, tidak boleh ditambah yang lain tapi yang terseleksi.

“Makanya ada kelompok umur 14,16 dan 18. Intinya kompetisi harus jalan di usia 13,15,17, Kejurda terus Liga. Sekarang 34, seri 1 seri 2. Nah seri 2 itu akan kita batasi dibawah usia 18 tahun 7 pemain, usia 19 tahun 2 pemain dan usia 21 tahun 2 pemain,” ujar Tommy. *** (den)


Navigasi