DI BALIK ARENA PERTANDINGAN PON XX, PSIKOLOG KONI JABAR SEMANGAT DAMPINGI ATLET

MERAUKE -  Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diikuti beragam daerah di Tanah Air, tak hanya beradu gengsi dan prestasi. Seperti di ajang PON XX /2021 di Papua,  perang mental pun sangat kental terjadi.

Karena itulah, untuk mengantisapi turun mental terhadap kontingen,  KONI Jawa Barat tidak lupa untuk menyertakan psikolog guna  mendampingi para atlet di setiap cabang olahraga.

TugaS psikolog ini pun tidak mudah. Apalagi mendampingi atlet yang tengah dalam kondisi tegang menghadapi pertarungan. "Sudah menjadi tugas psikolog sebagai pendamping, dari awal hingga memasuki saatnya pertandingan, seorang psikolog harus memahami atlet, kalau ada yang terlihat tegang kita  beri pengarahan agar terlihat rileks dan tenang,  kalau ada yang terlalu tenang kita dorong agar lebih semangat," kata Andi Mulyadi, psikoloh yang tengah ditugaskan di Merauke.

Tugas psikolog juga kata Andi, tidak saja terjun disaat PON berlangsung. Sejak awal katanya, tim psikolog sudah melakukan mental training kepada para atlet di setiap cabang olahraga.

"Sementara pada saat pertandingan kita datangi mereka yang akan bertanding untuk kita lakukan konsuling, terbukti saat kita lakukan itu pernah ada kejadian atlet mengeluhkan pelatihnya dan pelatihnya mengeluhkan akan kondisi atletnya, disitulah peran seorang psikolog untuk membuat suasana menjadi kondusif, hal yang seperti inilah jadi tugas kita untuk terus mendampingi," ujar Andi menambahkan.

Selanjutnya katanya lagi, psikolog memberikan berbagai masukan dan pengarahan dana suasana dibuat serilek mungkin. "Jadi, bukan saja mental training tapi juga kita harus mengarahkan mereka agar situasinya jadi tenang tidak akhirnya down mentalnya," katanya mengungkapkan.

Menurut Andi, penanganan atlet dilakukannya sejak dari mess. Sebelum menuju pertandingan, ujarnya, pertama yang harus dilakukan adalah memberikan dorongan. "Seperti kita dorong agar atlet jangan takut, mereka kasih arahan agar yakin dengan kemampuannya,

siapa pun dan bagaimana pun lawannya harus dihadapi dengan maksimal, disinilah peran psikolog yang sebenarnya, jangan langsung juatifikasi atlet, harua kita buat suasana setenang mungkin buat atlet," ia menjelaskan.

Psikolog juga dituntut untuk dapat membaca situasi dan kondisi setiap arena yang akan dijadikan tempat bertanding atlet.

"Untuk hal ini, kita melakukan observasi penonton apalagi ketika kita menghadapi tuan rumah, sebelum bertanding saja drumnya sudah terdengar dan riuh, dengan suasana ini kita wajib dampingi atlet kita, kita baca dari gestur si atlet untuk kita dampingi," katanya menegaskan.

Pada kesempatan yang sama, pegulat putri andalan Jawa Barat, Eka, merasakan betul  kehadiran psikolog di tengah - tengah atlet. Eka mengakui, disertakannya psikolog untuk mendampingi atlet berdampak sangat besar.

"Misalnya, setelah diberi arahan- arahan sedikitnya ada kepercayaan dari diri kita, bahkan kita pun tidak ada perasaan untuk meremehkan lawan, sangat terasa peran psikolog dalam PON ini," kata Eka mengungkapkan.  (KONI Jabar)


Navigasi