PON VI tahun 1965 secara pelaksanaan tidak dapat dilaksanakan karena meletusnya Gerakan 30 September 1965. PON berikutnya langsung ke PON VII dan diputuskan di Surabaya.
Setelah melewati jalan berliku seperti dipaparkan di bagian ketiga, maka diputuskan PON VII digelar di Kota Pahlawan Surabaya, Jawa Timur.
Sebab, menutut pengamatan KONI Pusat, Surabaya dinilai sangat siap lantaran seluruh fasilitasnya baik venue pertandingan, penampungan atlet, akses menuju venue pertandingan benar-benar layak dan tidak mengeluarkan biaya banyak untuk proses perbaikan.
Selanjutnya, melalui pertemuan pada bulan Juni 1968 maka dikeluarkanlah Surat Keputusan (SK) KONI Pusat Nomor : 10/1968 yang ditanda tangani Ketua Umum KONI Pusat waktu itu, Hamengkubuwono IX maka pada tanggal 24 September 1968 mengupayakan PB PON VII/1969 ditunjuk sebagai pelaksana dan penyelenggara PON VII dimana sebagai Ketua Umum PB PON VII saat itu, Pj Gubernur Jawa Timur, Moh Noer dan Ketua Pelaksananya adalah Acub Zaenal.
Setelah terbentuknya PB PON VII/1969 maka Panitia Pelaksana menentukan semua keperluan pada PON VII/1969. Karena pelaksanaan PON VII memiliki setahun lagi, maka semua kegiatan dilakukan secara menyeluruh.
Utamanya dalam mengupayakan masalah anggaran untuk sarana – sarana keolahragaan dari mulai transport dan kebutuhan lainnya. Untuk mengupayakannya tak hanya digeber oleh PB PON dan Pemprov Jatim, seluruh masyarakat pun ikut dikerahkan untuk menyukseskan pelaksanaan PON VII/1969 di Surabaya.
Sehingga persiapan PON VII benar – benar menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat karena jika dihayati PON adalah kegiatan yang bisa mengubah secara menyeluruh.
Sebagai langkah awal persiapan PON VII/1969 yaitu membangun lapangan sepakbola Persebaya atau yang dikenal dengan Stadion Tambaksari sebagai pusat kegiatan selama PON VII/1969 digelar.
Setelah dibangun dan direnovasi sebagaimana mestinya, stadion yang dulu bernama Tambaksari berubah namanya menjadi Stadion 10 November. Pemilihan nama tersebut memiliki nilai sejarah dimana di Surabaya pada 10 November 1945 telah terjadi peristiwa serangan yang dilakukan Inggris secara brutal kepada rakyat Indonesia Kota Surabaya dan dilawan oleh Arek Arek Suroboyo dengan semangat pantang menyerah dan jiwa besar.
Dengan mengambil nama stadion dengan 10 November mengingatkan orang akan peristiwa tersebut. Apaagi jika dikaitkan dengan pelaksanaan PON VII/1969, itu merupakan even untuk menunjukan semangat keolahragaan yang sportif dan setiap atlet tidak boleh gentar dan pantang menyerah menghadapi lawan manapun dan apapun. *** (rief/dari berbagai sumber).