MEDAN sebagai ibukota provinsi di luar Pulau Jawa dinilai mampu menjadi tuan rumah yang baik PON III/1953. Stadion Teladan yang menjadi venue pembukaan dibangun secara khusus agar dapat menampung hingga 50 ribu penonton. Termasuk membangun venue-venue bagi cabang olahraga bulutangkis, bola basket dan cabang olahraga lainnya.
Letak Kota Medan yang dinilai strategis baik melalui transportasi, darat, udara maupun laut menjadi pendorong bertambahnya jumlah provinsi yang menyatakan ikut serta di PON III/1953 itu.
Bahkan, pada waktu itu kondisi Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia sehingga semua fasilitas yang diperlukan untuk penyelenggaraan PON III/1953 sudah tersedia guna menampung kontingen dari berbagai provinsi di Tanah Air.
PON III/ 1953 Medan menjadi bahan pemantauan khusus bagi pemerintah pembina, pelatih, atlet dan insan olahraga lainnya, sejauh mana kemampuan daerah di luar Jawa dalam menyelenggarakan multieven yang diikuti kurang lebih 2000 peserta itu.
Namun yang perlu diingat pada waktu itu, pembinaan keolahragaan di tanah air, selain tertuju kepada penyelenggaraan PON III/1953, Indonesia juga pada saat itu tengah menatap pesta olahraga Asian Games II di Manila pada tahun 1954.
Karena itu, hasil akhir penyelenggaraan PON III/1953 Medan menjadi tolok ukur bagi keikutsertaan Indonesia di Asian Games Manila 1954 tersebut. Terutama yang menjadi role modelnya adalah kemampuan daerah di luar Pulau Jawa menyelenggarakan pesta olahraga terbesar di Tanah Air.
14 cabang olahraga yang dipertandingkannya pun merupakan cabang olahraga yang betul-betul mampu memberikan gambaran bahwa cabang olahraga itulah yang berkembang di Tana Air hingga saat ini. *** (Arief/dari berbagai sumber)