BANDUNG - KONI Jawa Barat menggandeng pihak ketiga untuk bekerja sama menangulangi keterlambatan anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov) sehingga pelaksanaan Pelatda Menuju PON XXI/2024 bisa dilaksanakan pada Januari ini.
Ketua II Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Jawa Barat, Yunyun Yudiana, mengungkapkan, pananggulangan bagi anggaran yang tidak mungkin bisa mengucur pada Januari 2024, bisa tertangani berkat kerja sama di internal KONI Jawa Barat.
"Alasan kita harus menggandeng pihak ketiga, karena memang anggaran bulan Januari belum turun sehingga kami harus mencari pihak ketiga untuk menanggulangi hal tersebut. Alhamdulilah kawan-kawan kita d KONI sanggup untuk menaggulangi hal itu,” kata Yunyun mengungkapkan lagi.
Yunyun memberi garansi bahwa jalinan KONI Jawa Barat dengan pihak ketiga tidak akan merugikan siapa pun. Justru sebaliknya, dalam perjalanannya semua kebutuhan KONI Jawa Barat untuk melaksanakan Pelatda dan persiapan seluruh cabang olahraga akan tertangani.
"Jalinan kerjasama dengan pihak ketiga ini tidak ada yang dirugikan. Bahkan, dengan adanya pihak ketiga ini KONI Jabar merasa sangat terbantu termasuk beberapa cabor yang akan melaksanakan Pelatda," ujarnya meyakinkan.
Yunyun juga memastikan, sudah terjalin kesepakatan dengan cabor-cabor bahwa semua kebutuhan dalam kaitan program Pelatda akan ditangani oleh KONI Jawa Barat salah satunya dari sektor kebutuhan asupan, nutrisi sampai minuman bagi atlet.
Prosesnya, seluruh kebutuhan cabor pada sektor makanan dan minuman akan disuplai oleh vendor dalam pengawan KONI Jawa Barat.
"Sudah ada kesepakatan dengan mereka terutama untuk masalah makan dan minum bagi atlet (mamin). Tetapi, masalahnya apakah mereka semua cabor mau mandiri atau mau menggunakan bantuan KONI Jabar langsung. Kami juga mempersilahkan kepada cabor untuk mandiri dulu dan setelah dana hibah turun dari Pemprov kita akan rembuse. Namun persoalannya tidak semua cabor mampu. Bisa dibayangkan kalau mandirei cabor harus menyiapkan sedikitnya Rp 1,2 miliar per tiga bulan, kan cukup berat," katanya membeberkan.
Akan tetapi, tidak semua cabor juga memulai Pelatda dan latihannya di bulan Januari. Ada beberapa cabor yang tidak boleh berhenti lama dalam menjalankan program latihannya semisal, dayung dan angkat besi dimana cabor tersebut merupakan cabor terukur dimana peak ferformance atlet - atlet tersebut harus terus terjaga.
"Cabor, dayung, angkat besi setekah BK mereka tetap berlatih, karena berhenti saja sehari apalagi berlama-lama akan menurun peak ferformancenya, seperti dayung dan angkat besi kan harus terus menjaga otot - ototnya agar tetap stabil, jika berhenti sudah lewat apa yang sudah mereka bangun,"kata Yunyun menjelaskan.
Pihak KONI Jawa Barat pun tidak memaksa semua cabor harus mengikuti apa yang dicanangkan. KONI Jawa Barat seperti yang pernah disampaikan Ketua Umum, M Budiana, mempersilahkan cabor jika ada yang ingin mandiri khususnya untuk masalah kebutuhan makanan dan minuman.
Namun dengan syarat jika seluruh cabor akan mandiri seperti meracik makanan sendiri maka akuntabilitasnya harus terpenuhi.
“Kita juga harus memahami karakter masing-masing cabor. Jadi, KONI juga tidak hanya menyuplai makanan maupun minuman, tetapi kita pun akan menerjunkan tim sport medicine, para ahli gizinya dan itu sudah kita bahas dengan pihak catering yang akan kita pakai. Selain itu, kita pun menerjunkan tim monitoring dan evaluasi (monev) , tim sport science dan psikolog,” ujar Yunyun serya mengatakan bahwa Memorandum of Understanding (MoU) sudah mendekati dan siap ditanda tangan dengan pihak ketiga. *** (Rief)