CATATAN perjalanan PON pasca meletusnya G 30 S-PKI yang disadur dari buku Kontingen PON X Jawa Barat ini, memang tidak dicatata berapa rekor yang pecah dari pelaksanaan PON orde baru yaitu PON VII/1969 di Surabaya, Jawa Timur.
Tetapi. Buku tersebut menyebutkan bahwa di PON VII/1969 telah melahirkan atlet-atlet muda potensial dan berbakat.
Disebutkan, atlet – atlet muda tersebut banyak yang lahir dari cabang olahraga, Atletik, Renang, Polo Air, Loncat Indah, Balap Sepeda, Tinju, Gulat, Catur.
Yang paling fenomenal pada waktu adalah membumbungnya Charlie Depthios lifter Angkat Besau yang berhasil memecahkan rekor internasional.
Akan tetapi, pada waktu itu rekor tersebut belum diakui oleh oleh federasi Dunia Angkat Besi. Bagaimana kelanjutan keputusannya sampai sekarang pun belum didapat data otentiknya.
Dengan berakhirnya PON VII/1969 maka tidaklah kesulitan untuk menentukan PON berikutnya oleh KONI Pusat yaitu PON VII/1973.
KONI Pusat pun melaksanakan rapat khusus pada 22- 24 Agustus 1969 yang menghasilkan banyak perubahan dalam hal organisasi, pembinaan, umum dan masalah –masalah lainnya.
Salah satu hasil rapat yang paling penting adalah perubahan tempat penyelenggaraan.
Sebelumnya, KONI Pusat telah merencanakan PON VIII/1973 akan diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan. Namun, akhirnya ditetapkan di Jakarta.
Lalu penetapan PON VIII/1973 dilselenggarakan pada 4 -15 Agustus 1973 yang merupakan keputusan pemerintah pusat. Kota Palembang batal menjadi tuan rumah karena persoalan anggaran.
Beberapa tahun setelah meletusnya G 30 S-PKI, kondisi Jakarta pun berangsur pulih. Ibu Kota negara itu gencar membangun sarana dan pra sarananya. PON VIII/1973 mengedepankan tema : PON Prestasi, Persahabatan dan Peningkatan Kebudayaan.
Pemerintah DKI Jakarta dalam menyelenggarakan PON VIII/1973 pada masa itu mengeluarkan Rp 42 milyar dalam setiap tahunnya untuk menyelesaikan seluruh fasiltas yang dibutuhkan dan itu diluar biaya PON VIII/1973 kurang leboh Rp 3 milyar.
Perubahan lainnya adalah, Bendera PON tidak lagi dibawa secara estafet dengan pertimbangan waktu. Akan tetapi, Bendera PON diambil oleh PB PON ke Surabaya menggunakan pesawat.
Api PON juga biasanya dibawa secara beranting yang sumbernya dari Indramayu atau di Madura, pada PON VIII/1973 api PON diambil dari sinar matahari di puncak Monas menggunakan paraboloide dengan bantuan Planetarium Taman Ismail Marzuki.
Acara pembukaan PON VIII/1973 tidak menghilangkan tradisi keolahragaan. Pembawa Api PON VIII/1973 dari Plaza Tugu Nasional dilakukan beranting ke Balaikota selanjutnya dibawa oleh pelari ke Stadion Senayan sekaran GBK lalu kemudian dinyalakan di couldron.
Sementara acara penutupan PON VIII/1973 yang semula akan diisi oleh pertandingan sepakbola akhirnya dibatalkan dan digantikan dengan pertandingan cabang olahraga atletik.
Hal ini pengalaman di PON VII/1969 di Surabaya menyusul insiden yang terjadi saat final cabang olahraga sepakbola DKI Jakarta vs Sumater Utara yang berakhir dengan kericuhan. *** (rief/berbagai sumber).