ENSIKLOPON - PON II/1951 JAKARTA: MEMPRIHATINKAN KARENA BANTUAN PEMERINTAH KURANG MAKSIMAL

BANDUNG - Setelah dibangun Stadion IKADA untuk pusat penyelenggaraan PON II/1951 Jakarta, memuculkan pertanyaan dimana para tamu dan atlet ditampung. Sungguh memprihatinkan dan tidak sesuai harapan seluruh kontingen kala itu.

Ibu Kota Jakarta kala itu tidak segemerlap sekarang dimana hotel-hotel tersebar diseluruh pelosok Jakarta.

Akan tetapi, pada waktu itu Kota Jakarta hanyalah nama besar sebagai Ibu Kota Republik Indonesia sementara infrastruktur belum selengkap seperti sekarang ini.

Karena itu, pihak tuan rumah, yakni Pemprov Jakarta Raya memanfaatkan sekolah-sekolah, asrama tentara,  serta gedung-gedung pemerintah yan tersebar di beberapa tempat untuk menampung tamu-tamu PON dari berbagai provinsi  yang jumlahnya mencapai 1.300 personil.

Bahkan, untuk tempat tidur pun pada saat itu tidak semewah Jakarta sekarang. Bahkan, pada waktu itu, tempat tidur tidak sebaik yang diharapkan para atlet dan ofisial karena ruangan yang disediakan  diisi oleh 20 sampai 25 orang.

Misalnya, untuk satu perumahan hanya memiliki 2 WC dan kamar mandi. Lebih parah lagi, tamu-tamu PON atlet dan ofisial, tidak tidur diatas kasur dengan tempat tidur yang nyaman melainkan menggunakan velbed, tikar dan peralatan lainnya.

Masalah transportasi  menuju venue seluruh peserta pun cukup disulitkan pada PON II di Jakarta tahun 1951 itu. Mereka terkadang harus berjalan kaki, menggunakan delman, ikut truk-truk tentara dan bis milik pemerintah setempat.

Penyebabnya lebih disebabkan karena bantuan pemerintah pada PON II/1951 tidak maksimal sehingga ketika para atlet akan menuju lokasi pertandingan kerap harus menunggu giliran untuk diangkut. Oleh karena itu, pelaksanaan PON II/1951 ini secara keseluruhan penyelenggaraan dan pelaksanaanya hampir seluruhnya dilakukan oleh PB PON II/1951 dengan dibantu induk -induk cabang olahraga. *** (Rief)


Navigasi