BANDUNG - Pelaksanaan PON II/1951 yang begitu memprihatinkan menyebabkan pelaksanaan seremonial dan upacara pembukaannya berjalan secara sederhana namun tetap terdapat kemeriahan.
Dipusatkan di Stadion IKADA yang baru dibangun dengan kapasitas sampai 25 ribu penonton PON II/1951 yang berlangsung di Jakarta secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Pertama Ir Soekarno (Bung Karno).
Seluruhh rakyat Indonesia pada masa itu merasa bangga dengan terselenggaranya PON II karena upaya untuk menggalang Persatuan dan Kesatuan Bangsa begitu tercermin di dalamnya dimana seluruh daerah dari luar Jawa kali pertama mengikuti perhelatan olahraga nasional yang dulu pesta olahraga tiga tahunan.
Apalagi, sebelum PON II/1951 berlangsung di Jakarta, Indonesia telah mengirimkan atlet-atletnya ke Asian Games I di New Delhi.
Karena itu, dari perhelatan dan persaingan di arena PON II tersebut lebih nampak kemajuan dan peningkatan kualitas yang ditunjukan oleh para atletnya.
Perlu dicatat bahwa pada saat itu, Indonesia baru mengirimkan dua cabang olahraga ke Asian Games I di New Delhi yakni, cabang olahraga sepakbola dan Atletik. Sedangkan cabang olahraga lainnya gagal diberangkatkan karena terkendala anggaran pada waktu itu ditambah tingkat prestasinya belum tinggi untuk kawasan Asia.
Ditambah belum adanya kerja sama yang belum teratur antara PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) dengan KORI (Komite Olympiade Republik Indonesia). Begitu pula masih banyaknya organisasi - organisasi keolahragaan yang belum memiliki pengalaman dalam bekerja sehingga mempersulit tugas dan program yang akan dilaksanakan.
Oleh karena itulah, dari pengalaman yang didapat selama mengikuti Asian Games I di New Delhi maka kegiatan atlet dimaksimalkan dan ditingkatkan untuk mencapai prestasi pada ajang PON II/1951 di Jakarta.
Artinya, prestasi bukan utama tetapi setidaknya dari tahun ke tahun, dari PON ke PON menghasilkan perkembangan yang lebih baik dengan rekor yang dipecahkan oleh para atlet. *** (Rief)