BANDUNG - Bukanlah hal yang mudah untuk merebut medalI emas di event sebesar PON. Bukan juga seperti membalikkan telapak tangan atau bim salabim seperti yang diucapkan para pesulap.
Fitria Martiningsih, anak pasangan Sarifudin (ayah) dan Wiji Astuti (ibu) harus mandi keringat setiap harinya. Yang ada di pikiran Fitria adalah latihan, latihan dan latihan. Tak ada waktu main-main. Walau pun setiap hari Minggu pelatih memberikan waktu untuk istirahat.
"Keinginan saya sangat besar. Memberikan yang terbaik buat Jawa Barat. Malu saya jika sudah membawa bendera Jawa Barat, tapi tidak memberikan prestasi maksimal. Minggu betul libur latihan. Jika sebagian atlet main dan liburan, kalau saya nggak. Tetap di mess. Bahkan kadang-kadang "pegang besi" juga,"cerita Fitria Minggu (24/09/2023) di tempat latihannya di Jalan Padjajaran, Bandung.
PON Jabar 2016 merebut medali emas lalu di PON Papua 2021 juga medali emas, lalu bagaimana di PON selanjutnya?
"Saya ingin "hatrick" medali emas. Jadi pada PON XXI di Sumut-Aceh harus medali emas lagi. Saya ingin mengantarkan KONI Jabar "hattrick" Juara Umum PON. Saya ingin berkontribusi juga. Jadi, kalau Jabar ingin hattrick di PON secara menyeluruh, saya juga ingin hattrick di cabang olahraga angkat berat di kelas +84 kg,"tekad perempuan kelahiran Waringinsari Barat, Lampung 11 Maret 1994 ini.
Bercerita kecintaannya dengan cabang olahraga yang dulu lebih digandrungi kaum adam ini, Fitria mengatakan sejak usia 13 tahun sudah mulai latihan angkat berat.
"Dulu orang tua ada kenalan pelatih angkat berat. Sehingga di sarankan saya waktu itu untuk mencoba latihan angkat berat. Tapi sebelumnya sih sudah ada juga keluarga yang sudah lebih dulu menjadi atlit angkat berat,"kata Fitria.
Sejak saat itulah kata Fitria dirinya mencintai olahraga angkat berat dan terus termotivasi berlatih hingga saat ini.
Kendati pernah mengikuti beberapa kejuaraan di tingkat Lampung, namun Fitria menyimpan pengalaman dan kesan yang tak terlupakan ketika mengikuti Kejuaraan Asia di Jepang tahun 2011.
"Alhamdulillah saya mendapat medali perak. Pengalaman mengikuti kejuaraan Asia di Jepang sangat membanggakan untuk saya pribadi. Karana pertama kali ikut kejuaraan Asia dan pertama kali pula keluar negeri,"kenang Fitria, yang selalu memberi semangat latihan kepada para juniornya ini.
Ambisi yang besar kenapa Fitria sangat ingin merebut medali emas di setiap event katanya adalah pengalaman di PON XVII tahun 2012 di Pekanbaru, Riau.
Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII tahun 2012 di Pekanbaru, Riau, perempuan asli Lampung ini dikalahkan lifter putri Jabar (Lilis). Dan kekalahan itu sangat berkesan serta membekas pada dirinya. Lifter Lampung itu hanya meraih perunggu dan Lilis lifter angkat berat Jabar memperoleh medali emas.
Mulai saat itulah pada akhir tahun 2013 lifter putri Fitria yang asli Lampung tadi kemudian hijrah ke Bandung, Jawa Barat. Mencoba mencari asa dan membuka lembaran baru untuk berprestasi lebih baik di cabang olahraga angkat berat yang digelutinya ini.
Hasilnya, berkat kegigihan dan disiplin serta keinginan yang besar untuk berprestasi, pada PON XIX tahun 2016 di Bandung memulai debutnya dengan meraih medali emas buat Jawa Barat.
Beberapa tahun berikutnya, supremasi medali emas kembali di perolehnya. Kali ini dibuktikanya pada PON di Papua Tahun 2021.
Tidak hanya itu. Kesan yang tidak pernah terlupakan bagi Fitria yang mengidolakan pelatih Kang Usdi Permana dan Mas Tri ini adalah bisa mendapatkan medali perak dan bisa bertamu banyak teman teman dari manca negara.
Ditanya orang yang berpengaruh pada prestasi dia di angkat berat, Fitria dengan cepat menyebut dua nama yaitu pak Usdi dan pak Tri.
"Saya tidak dapat membalas kebaikan kedua orang ini. Pak Tri adalah yang berjasa membawa saya dari Lampung ke Bandung. Kalau pak Usdi secara teknik yang memoles saya,” pungkasnya. *** (Bang)