BANDUNG - APA yang diungkapkan, Drs, Halim Utomo SH MH, ini ada benarnya. Untuk memimpin sebuah organisasi olahraga diawali dari level terbawah.
Maksudnya, dalam mengemban tugas misalnya menjadi ketua organisasi olahraga, akan lebih baik pernah menjadi atlet atau apa saja yang berkaitan dengan kecaboran yang dipimpinnya.
"Kenapa, apabila seorang ketua berangkat dari atlet maka ia akan sangat bagus. Sebab, dalam perjalanan pasti akan menemui permasalahan khususnya masalah atlet. Kalau pernah merasakan jadi atlet lalu kita jadi ketua maka akan paham apa yang menjadi kebutuhan dan keperluan atlet," kata Halim dalam sebuah kesempatan kepapa website ini mengungkapkan.
Di dunia olahraga Jawa Barat khususnya KONI Jawa Barat, sosok Halim dikenal sebagai Ketua Umum POSSI Jawa Barat-induk olahraga yang mewadahi cabang olahraga selam-.
Dunia olahraga per-airan bukan hal baru bagi Halim. Mengenal dunia olahraga renang didapatnya setelah bergabung di salah satu klub renang Aquarius, sebuah klub renang tertua di Kota Bandung, dari mulai belajar, mengantar anak hingga masuk menjadi pengurusnya sampai sekarang.
"Karena itu, bekal saya memimpin POSSI Jabar karena bertahun-tahun saya berada di kepengurusan klub renang sampai sekarang, Aquarius, klub yang sudah lama yang berdiri sejak tahun 1952," kata Halim menuturkan.
Tetapi katanya, semua itu dijalani dengan belajar dari bawah seperti menjadi pengurus, lalu wakil dan dari wakil dirasa sudah belajar dari ketuanya maka ketika ditunjuk menjadi ketua tidak awam dan sudah siap memenuhi apa yang harus diberikan kepada organisasi.
Bagi Halim memimpin POSSI Jabar adalah hal baru dan pertama memegang jabatan sebagai ketua umum. Masa jabatannya masih empat tahun lagi. Ia diplih menggantikan Ketua Umum lama, Yudha M Saputra dua tahun lalu.
"Dua tahun memimpin cukup berliku, PON di Papua menjadi pengalaman pertama sejak memimpin POSSI. Di Papua Jabar meraih 4 emas dan 9 perak, di Aceh dan Sumut, kita harus melebihi, tapi realistisnya ya empat emas atau lima," ujarnya menambahkan.
Selain harus mencapai target di PON, sejak dipercaya menakhodai POSSI Jabar, ia mengaku telah dihadapkan oleh segudang program. Karena pengalamannya bertahun - tahun mengurusi organisasi olahraga renang, beberapa program tidak sulit ketika ditancapkan di POSSI Jabar.
"Kalau saya memegang lima program, pertama pembinaan atlet secara intensif berkelanjutan. Kedua, organisasi yang terstruktur serta sistematik. Tiga kemandirian POSSI dalam mengelola lalu mencari serta bekerjasama dengan berbagai pihak untuk pembiayaan pembinaan, mengikuti kegiatan multieven, dan itu harus dikelola secara profesional dan akuntabel," katanya memaparkan.
Menghadapi PON tahun depan, jadi program terdekat yang harus segera dikerjakannya. Dari mulai mencari kebutuhan peralatan atlet hingga venue latihannya.
Menurutnya, menjelang Pelatda POSSI Jabar pada Januari 2024, tengah dirancang program training centre (TC) bagi para atlet PON yang akan dilaksanakan di dua kota masing-masing di Kota Bandung dan khusus untuk nomor laut akan dilaksanakan di Cirebon.
Di Kota Bandung, program latihan atlet POSSI Jabar disebar ke beberapa kolam renang, diantaranya Karang Setra, Kolam Renang UPI Bandung, Kolam Renang Brigif dan Kolam Renang di Jalan Tongkeng Bandung.
"Untuk peralatan sendiri kita kemungkinan mengimport dari Ukraina, karena kualitasnya cukup bagus. Seperti itulah tugas ketua untuk organisasi. Siap untuk berkorban dan paham memenuhi kebutuhan organisasi dan atlet," ujarnya menambahkan.
Meski begitu, sejauh menakhodai POSSI Jabar tidak merasa tersita akan waktu yang harus diluangkan. Padahal, kesehariannya, bukan saja mengurusi atlet selam dan organisasinya. Diluar itu, Halim memiliki kesibukan lain, baik sebagai Badan Audit Internal KONI Jawa Barat, Pengurus KONI Kabupaten Bandung Barat (KBB) serta akrivitasnya menghadapi pencalonan sebagai calon anggota legislatif DPRD Jawa Barat untuk Partai Demokrat dengan Daerah Pemilihannya (Dapil) Bandung dan Cimahi. *** (Rief)